Teori Pembangunan - Teori Pasca-Ketergantungan

A.       LATAR BELAKANG
·         Teori pasca-ketergantungan ini muncul sebagai alternative dari teori sebelumnya, teori ketergantungan dan member perspektif baru pada teori-teori pembangunan pada umumnya.
·         Salah satu persfektif penting yang diberikan adalah bahwa aspek eksternal dari pembangunan menjadi penting. Sebelumnya aspek tersebut kurang dianggap berperan. Negara-negara lain hanya dianggap sebagai mitra dagang, yang sering kali sangat membantu proses pembangunan yang terjadi di suatu Negara. Ataupun dianggap menghambat, paling-paling karena Negara itu sangat besar kekuatan ekonominya, sehingga Negara yang sedang membangun tidak bisa bersaing dengan mereka.

B.        TEORI-TEORI PASCA-KETERGANTUNGAN
1.      TEORI LIBERAL
·         Teori liberal pada dasarnya tidak banyak dipengaruhi oleh teori ketergantungan, teori liberal tetap berjalan seperti sebelumnya yakni mengukuti asumsi-asumsi bahwa modal dan investasi adalah masalah utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
·         Teori yang dianut oleh para ahli ekonomi ini lebih mengembangkan diri pada keterampilan teknisnya, yakni bagaimana membuat table input-output yang baik, bagaimana mengukur keterkaitan diantara berbagai sector ekonomi dan sebagainya. Tentu saja bukan tidak berguna. Tetapi, yang kurang dipersoalkan adalah bagaimana faktor politik bisa dimasukkan ke dalam model mereka.
·         Kritik terhadap teori liberal pada umumnya berkisar pada ketajaman definisi dari teori ketergantungan. Definisi yang ada dianggap terlalu kabur, sulit dijadikan sesuatu yang operasional. Tanpa kejelasan dan ketajaman konsep – konsep dasarnya, teori ketergantungan lebih merupakan sebuah retorika belaka.
·         Agar konsep ketergantungan dapat di pakai untuk menyusun teori, maka ada dua kriteria yang harus dipenuhinya, yaitu:
a.      Gejala ketergantungan ini harus hanya ada di negara – negara yang ekonominya mengalami ketergantungan dan tidak di negara yang tidak tergantung dengan negara lain.
b.      Gejala ini mempengaruhi perkembangan dan pola pembangunan di negara – negara yang tergantung.
·         Dari penelitiannya terhadap aspek ekonomi dan sosiopolitik dari gejala ketergantungan , Lall melihat bahwa gejala ini juga terdapat di Negara-negara yang dianggap tidak tergantung. Misalnya tentang dominasi modal asing.

2.      TEORI ARTIKULASI

·         Mula-mula dikembangkan oleh Claude, Meillassoux dan Pierre Philippe Rey
·         Berititik tolak dari konsep formasi sosial
·         Dalam Marxisme dikenal konsep cara produksi (mode of production) , misalnya cara produksi kapitalis, cara produksi sosialis, dsb. Masing-masing cara produksi tersebut mempunyai ciri sendiri dibandingkan dengan cara produksi lainnya.
·         Ada peralihan dari satu cara produksi ke produksi lain. Peralihan itu memakan waktu berabad-abad. Pada waktu peralihan inilah dimungkinan ada beberapa cara produksi sekaligus. Pada tataran nyata dimungkinkan cara produksi kapitalis bersamaan dengan cara produksi feodal.
·         Kondisi diatas dinamakan formasi sosial, yaitu ada cara produksi yg lebih dari satu ada bersama.
·         Menurut Marx: Di satu formasi sosial, ada 1 jenis cara produksi yang menguasai cara produksi lainnya. Cara produksi yg dominan ini berfungsi seperti memberi pengaruh dan mengubah sifat-sifat utama dari cara produksi lainnya. Bila cara produksi feodal dominan maka disebut formasi sosial feodal.
·         Perbedaan dominasi itu yg memunculkan konsep artikulasi.
·         Pendapat Teori Artikulasi: Kapitalisme di negara Pinggiran tidak bisa berkembang karena artikulasinya atau kombinasi unsur-unsurnya tidak efisien. Kegagalan kapitalisme di negara pinggiran karena cara produksi yang ada di negara tersebut saling bertentangan dan menghambat.
·         Teori Artikulasi disebut juga sebagai teori yang memakai pendekatan cara produksi. Pada teori ini, persoalan keterbelakangan dilihat dalam lingkungan proses produksi. Bagi teori artikulasi, keterbelakangan di Negara-negara duniaketiga harus di dilihat sebagai kegagalan dari kapitalisme untuk berfungsi secara murni. Sebagai akibat dari adanya cara produksi lain di Negara-negara tersebut.

3.      BILL WAREN
·         Warren membantah inti teori ketergantungan, yakni bahwa perkembangan kapitalisme di Negara-negara pusat dan pinggiran berbeda. Menurutnya, kapitalisme di Negara manapun sama.
·         Inti dari kritik Warren adalah :
§  Bahwa dalam kenyataannya, negara-negara yang tergantung menunjukkan kemajuan dalam pertumbuhan ekonomi dan proses industrialisasinya. Bahkan kemajuan ini menunjukkan bahwa negara-negara yang tergantung ini sedang mengarah pada pembangunan yang mandiri. (Hal ini berbeda dengan pandangan kaum Marxis)
§  Oleh karena itu, dia menyimpulkan :
“Jadi, berlawanan dengan pendapat umum yang ada, dunia ketiga tidak mengalami kemandekan secara relative maupun absolut setelah perang dunia ke dua, sebaliknya, kemajuan yang berarti dalam hal kemakmuran material dan pembangunan kekuatan produksi telah tercapai, dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan sebelum perang. Kenyataan ini juga berlawanan dengan pandangan kaum marxis yang menyatakan bahwa pembangunan nasional yang mengikuti jalan kapitalis bisa terjadi di dunia ketiga”.

4.      IMMANUEL WALLERSTEIN
·         Mengemukakan Teori sistem dunia
·         Ia mengkritik bahwa teori ketergantungan tidak bisa menjelaskan pembangunan di dunia ketiga, yang bisa dijelaskan hanya gejala terjadinya keterbelakangan.
·         Dulu, dunia dikuasai oleh sistem-sistem kecil atau sistem mini dalam bentuk kerajaan-kerajaan atau bentuk pemerintahan lainnya karena waktu itu belum ada sistem dunia. Dan masing-masing sistem mini tidak saling berhubungan atau dunia waktu itu terdiri dari  banyak sistem mini yang terpisah.
·         Kemudian terjadi penaklukan-penaklukan secara militer maupun bergabung dengan  sukarela, lalu muncul apa yang disebut  “kerajaan dunia”  (world empire). 
·         Kerajaan dunia ini mengendalikan kawasannya melalui sebuah sistem politik yang dipusatkan.
·         Perkembangan teknologi perhubungan dan perkembangan di bidang lain kemudian memunculkan sistem perekonomian dunia yang menyatu. Dengan kata lain, sistem perekonomian dunia adalah satu-satunya sistem dunia yang ada. Sistem dunia inilah yang sekarang ada sebagai kekuatan yang menggerakkan negara-negara di dunia. (Sistem dunia saat ini hanya satu yakni kapitalisme global – pasar internasional)
·         Sistem dunia = kekuatan  yang menngerakkan Negara-negara di dunia (termasuk sistem ekonomi, misalya kapitalisme global, ekonomi pasar, dsb.)
·         Menurutnya,  sebuah sistem dunia  tidaklah harus  berarti menguasai  seluruh dunia,  atau harus ada satu kekuasaan pusat,  Negara-negara dapat berdiri sendiri dengan pembagian kerja tertentu satu dengan yang lain dan dapat bekerjasama.
·         Dalam mengadopsi teori ketergantungan, Ia mengklasifikasikan negara-negara menjadi 3 kelompok kelas:
1.      Negara pusat (Negara maju)
2.      Negara setengah pinggiran (Negara semi-periphery)
3.      Negara pinggiran (Negara terbelakang/ periphery)
Dengan komposisi:
v  1 mengeksploitir 2
v  2 mengeksploitir 3
v  3 yang paling dieksploitir
Perbedaan pokok diantaranya adalah pada  pada kekuatan ekonomi, dan yang paling kuat adalah negara pusat. Ketiganya saling berinteraksi, sehingga untuk menganalisis suatu negara  harus  dilihat sebagai keseluruhan  dunia.
·         Setiap kelompok negara bisa naik atau turun kelas. Setelah negara-negara Eropa hancur (inggris, belanda dan perancis) kini amerika yang terkuat. Munculnya negara-negara industri baru (korsel,taiwan, singapura hongkong, cina) merupakan contoh naiknya kelas negara pinggiran ke setengah pinggiran dan mungkin  merebut menjadi pusat
·         Strategi proses kenaikan kelas (pandangan teori sistem dunia)
1.      Dengan merebut kesempatan yang datang
§  Hanya bisa dilakukan dengan cara merebut kesempatan yang datang.
§  Pada suatu kondisi tertentu karena tidak seimbangnya perdagangan negara pusat dan pinggir, akan terjadi “harga barang mentah sangat murah dan harga barang industri/ olahan  sangat mahal” à  negara pingiran tidak tidak bisa impor barang industri olahan.
§  Karena itu, harus berani melakukan tidakan radikal, antara lain:   Melakukan industrialisasi  di negeri sendiri sebagai substitusi barang-barang impor tsb. Dengan resiko ada ketergantungan lain yaitu barang-barang seperti impor mesin produkasi. Mengoptimalkan potensi dalam negeri dan kencangkan ikat pinggang barang produksi
2.      Melalui undangan (keikutsertaan dalam saham multi national coorporation)
§  Biasanya karena keterbatasan tenaga kerja dan wilayah di negara pusat, maka mereka berusaha mengekspansi perusahaan multinasional ke negara lain.
§  Mereka butuh   mitra usaha di negara lain, termasuk mendirikan perusahaan-perusahaan/pabrik sebagai “cabang”nya. Bagi negara pinggirian yang menerima tawaran seperti ini, maka akan  banyak berdiri perusahaan/pabruk, tetetapi milik “negara luar”.
§  Kegiatan industrialisasi seakan cepat berkembang, penduduk tertampung sebagai pekerja, dan sebagaian keuntungan akan dinikmati oleh negara  pingiran tersebut.
§  Dalam hal ini tergantung “bargaining” yang dibuat antara negara pinggirian dan pusat ”kapan negara pinggirian dapat naik kelas/ kapan paerusahaan dapat dialihkan kepemilikannya ke negara pinggir. Dengan cara demikian  negara pinggir akan menjadi “negara  setengah pinggiran”
3.      Memandirikan negara sendiri : Berusaha melepas ketergantungan dengan negara  pusat.  Tergantung ada tidak kesempatan untuk ini. Punyakah kemampuan untuk lepas dari kungkungan negara pusat. Contohnya adalah negara kenya dengan konsep  ujamaa untuk melepaskan dari eksploitasi negara maju.


Untuk File lengkapnya, klik
disini 

0 comments:

Post a Comment

Let's share!


up